Nobody's perfect. Mungkin kata itu yang lebih tepat dilontarkan untuk seorang Nabila As'ad, gadis lugu nan polos yang hobi membuat orang sekitarnya berdecak kagum. Mengawali cerita saya yang agak complicated, saya ingin menawarkan seteguk air putih yang setia menemani saya sore ini. Glek.
Tak perlu bertele-tele, begini nasib korban kejeniusan Bhella sang gadis polos. .
Semua diawali hari Senin, 25 Agustus 08, sehari menjelang ulang tahun Icut. Kami (baca:saya, Tyas, Intan, Bhella) merencanakan kejutan, yang lebih tepatnya keisengan dibumbui kejahilan untuk Amirinissa a.k.a Icut. Setelah Intan dan Bhella berdiskusi tanpa saya dan Tyas, Intan mendatangi saya yang tengah asik nostalgia dengan teman SMP saya yang sengaja datang ke ITB. Diceritakanlah rencana yang nampaknya berbau apik nan rapi. Maka dengan semangat menggebu-gebu, saya dan Intan berencana membeli tiramisu ke Kartika Sari untuk merayakan hari jadi Icut. Perlukah saya menceritakan rencana itu? Baik, kalau Anda, para pembaca, memaksa.
Pada pukul 00.00 tgl 26 Agustus 08, kami akan memberikan kejutan kue dan kado. Lalu, pagi harinya, kami akan memberantaki kamarnya. Siangnya di kampus, rencana diserahkan kepada Mita Jenny untuk mengerahkan massa demi mengerjai Icut habis2an. Malamnya, Icut harus mentraktir kami di Warung Laos. Cukup rapi, huh?
Kembali ke cerita awal. Saya dan Intan yang sedang berjalan menuju Kartika Sari, berpapasan dengan Tyas, Fitri, dan Icha yang-akan-kumpul-angkatan, di depan Warung Pasta. Letak Warung Pasta merupakan letak yang cukup strategis, karena dekat dengan jalan utama Dago dan tentunya dekat ITB. Namun tidak untuk yang satu ini. Saya, Intan,dan Tyas pun sangat antusias dengan rencana untuk malam itu. Terlalu antusias malah. Dan mungkin-sangat-hyperantusias. Sesaat sebelum kami berpisah, masih dalam keadaan antusiasme tinggi, saya merasakan apa yang dinamakan
It sent from above, not angel from God, not fortune from heaven. BUT BIRD'S FECES. Tai burung. Coba sebut lagi! Ee burung. Encer, putih, dan bau tentunya! Saya tidak perlu mendeskripsikan detailnya. Saya yakin Anda bisa menerjemahkannya dalam bayangan Anda sendiri.
Just so you know,saya sebelumnya sms-an sama temen SMP saya yang baru saja tiba di ITB dengan plesetan yg sering org bilang, " Welcome to ITB (Institut Ta* Burung). Ehem, ternyata Tuhan yang Maha Adil pun menunjukkan kepada saya bahwa itu benar adanya. Duuh,, saya karma sama almamater saya sendiri *so sorry, gak lagi2 deh*. Tapi entah mengapa tidak hanya saya saja yang kena, melainkan Intan dan Tyas pun kena imbas akibat kekarmaan saya. Maka kami bertiga pun menyimpulkan ini bukan sekedar karma sama ITB, melainkan kena kutuk sama Icut. Untunglah saya tidak dihujani di baju ataupun kerudung, hanya tangan ajah. Berbeda dengan Tyas dan Intan yang level keprihatinannya di atas saya. Mereka kecipratan ampe kena baju dan kerudung. Eeeyyywwwww.
Memperhitungkan jarak tempuh, ketidaklayakan penampilan, dan kondisi mental kami, maka saya dan Intan bergegas ke kosan Tyas untuk bersih2. Berharap Bhella yang satu kamar dengan Tyas menitipkan kunci yang tinggal satu2nya ke Mbak kosan, kami melesat cepat. Perlu saya beritakan terlebih dahulu bahwa Bhella yang konon satu kamar dengan Tyas, baru saja kehilangan kunci kamar, maka mereka berdua berbagi kunci. Sesampainya di kosan Tyas,
ternyata kunci tidak dititipkan oleh Bhella. Intan yang mukanya udah kusut, mengajak saya pulang ke kosan. Sementara saya yang tidak tega melihat "cairan putih" itu melekat di baju dan kerudung Intan pun hanya bisa memanggut. Di angkot, Intan berdampingan duduk dengan seorang mbak2 eksekutif cantik, wangi, rambut mungkin baru dibenahi di salon, penampilan yang sangat membuat saya berdecak kagum, dan tentunya tidak ada tai burung di tubuhnya. Saya tidak tega tertawa melihat di samping mbak2 cantik itu tergolek gadis muda yang baru saja menggebu2 membeli kue dan terpaksa memupuskan harapannya karena dapet "hadiah dari atas". Sumpah, saat itu saya tidak mencium bau yang aneh2. Tapi mungkin tidak begitu dengan Intan dan mbak2 di sampingnya. Hiihihiihihi.
Sesampainya di kosan, kami bersih bersih. Dan tak lama, Tyas menelpon saya dan mengatakan akan ke kosan saya karena dia tidak bisa pulang ke kosannya sendiri karena lasan yang Anda tau kenapa. Maka, tibalah Tyas dan Icha, temannya untuk menumpang sholat ashar. Karena tidak jadi membeli kue, maka kami memutuskan untuk membeli kue setelah makan malam bersama Bhella. Kami janjian di simpang setelah magrib. Berharap kali ini rencana berjalan lancar, maka kami bersorak sorai keluar kosan. Ternyata, tanpa di duga,
Bhella malah mengajak Icut makan malam bersama. Yak, ini mengakibatkan rencana membeli kue terhambat. Oleh karena itu setelah diskusi yang amat sangat pelik, diputuskan saya yang ikut makan malam bersama Bhella dan Icut, sementara Intan dan Tyas pergi membeli kue. Ketika bertemu dengan mereka berdua, saya yang tengah berpenampilan di luar kebiasaan jika makan malam, ditanya oleh Bhella, "Kok lw rapi amat? Mana Tyas ma Uni?". Saya hanya berkata, "Tadi habis ngerjain tugas di KP. Tyas ke kosan Icha ngambil barang. Uni ada kumpul PSIK", sambil mengedipkan mata ke Bhella. Namun kedipan saya nampaknya tidak mengartikan apa2 buat Bhella, mereka berdua percaya. Yang lagi saya bohongi itu siapa ya? Dan saya pun berbisik pada Bhella, "Jangan sampe Icut tau gw ama Uni mau nginep". Dia pun mengerti. Semoga saja.
Setelah makan malam di simpang, saya dan Icut menemani Bhella menduplikat kunci. Sebenarnya malas banget nganterin anak itu duplikatin kunci, hanya saja saya harus memastikan mereka berdua pulang naik angkot, dan saya memperhitungkan jarak untuk ikut menyusup ke kosan Bhella dan Icut. Nyatanya, tukang kunci gak ada, dan Bhella pake acara mampir dulu ke toko bahagia untuk membeli satu chiki Ring. Saya tidak tahu seberapa lama
Tyas autis menunggu Bhella di kosan untuk dibukakan kamar. Oia, kosan Icut sama dengan kosan Bhella yang sekamar dengan Tyas. Saya pun akhirnya memutuskan untuk naik angkot. Sesampainya di kosan Bhella, saya menelpon Tyas untuk dibukakan pintu. Cukup lama sampai akhirnya dia membukakan pintu gerbang. Ternyata Icut sedang bertandang di kamar mereka. Icut lagi nonton TV. Saya yang tidak mungkin ke kamar Tyas, dan tidak mungkin juga balik lagi, bersembunyi di pojokan ruang internet. Berharap Tyas dengan sigap mengusir Icut dari kamarnya, saya mengintip2 keadaan sambil menahan pipis. Lima menit berlalu, tak ada peningkatan. Tyas mendatangi saya yang khawatir autis menunggu kelamaan. Tyas bilang, "Sebentar ya, lagi diusahain". Tyas mengerahkan alasan agar Icut kembali ke kamarnya. Dia mengajak Icut nonton film di kamarnya, dengan alasan Bhella mau belajar dan tak mau diganggu. Belum sempat mengungkapkan isi hatinya, Tyas yang masuk ke kamar mandi mendapati dirinya harus nyuci2 *masalah wanita, tak perlu dijelaskan*. Saya yang tidak tahu apa yang terjadi di dalam kamar Tyas, hanya bisa online Yamee berharap Bhella juga online. Sepuluh menit berlalu, tak nampak Tyas berhasil. Dan lama sudah saya menunggu sampai akhirnya saya SMS Bhella untuk segera mengusir Icut dari kamarnya. Dia pun kurang lebih membalasnya, "Bentar ya. Bla bla *saya lupa*". Bersabarlah saya menantinya dari posisi menggelosor di lantai, loncat2an tak tahan ingin pipis, berdiri sambil mengoceh sendiri, sampai berpura2 menjadi orang tak bersalah ketika ada anak kosan yang baru pulang dan melihat saya terkulai lemah. Dan ajaib, tak lama, ada dua orang gadis bertamu ke kamar Bhella. Siapa? Mita Jenny dan Lilian. Makin lah menjadi2 lamanya. Tyas yang sudah bilang kepada Bhella bahwa saya sedang ngumpet, mendatangi saya lagi dan bilang bahwa Mita lagi menyusupkan kado untuk Icut. Auouooooooo!! Saya tak ada kata2 lagi untuk disampaikan selain, "Cepetan deh, gw kebelet!!". Bergegaslah Tyas. Cukup lama pokoknya. Akhirnya saya SMS lag Bhella, dan dia pun membalasnya, " Ada Mita ma Lilian nih, mau nitip kado buat Icut. Bentar ya.". For God's sake, tolong kasihani saya yang udah kena sial sedari sore. Lumutan. Karatan. Bahkan mengerak. Diketahuilah bahwa ternyata Bhella pake acara menawarkan makanan yang dikirim khusus dari Solo kepada Mita Jenny dan Lilian sambil berdiskusi hal2 aneh dan tak menghiraukan saya yang berada di ujung tanduk. Saya sms lagi Bhella, dan dibalas dengan sangat cerdasnya oleh anak itu, "Bil, mendingan lw naek angkot ja dulu.".
What?!! Are you thinking i'm at Simpang Dago right now?? U're about absolutely dead. "Bhel, gw uda dikosan lw sedari tadi!!". Lama setelah saya mengirim sms, akhirnya tiga orang itu (Icut, Mita, Lilian) hengkang dari kamar Bhella. Tyas bergegas lari ke saya yang mendapati sms, " Bil, mereka uda pulang. Gw bukain gerbang ya". God, what am i gonna do with this little girl? Saya abaikan smsnya, dan saya berlari ke kamar bersama Tyas dan langsung ke kamar mandi. Tak lama, Bhella datang dengan keterkejutan yang seharusnya tak perlu dia tampakkan. " Kok lw di sini?". Tyas yang capek mengatakan kepada Bhella bahwa sedari tadi saya telah turun dari surga menunggu lw yang tak kunjung mengerti di mana keberadaannya.
Di lain pihak, Bhella juga ternyata telah membuat Icut terkena musibah, yaitu
mengumumkan bahwa Icut ulang tahun di depan Orang-Yang-Tak-Sudi-Disebut-Namanya.
Malam itu pun menjadi malam yang panjang untuk saya. Tyas menonton film bersama Icut sampai dia terlelap, Intan yang akhirnya datang dari kumpul setelah membeli kue, Bhella yang entah apa yang ada dalam pikirannya, dan saya yang letih menanti pukul 00.00. Ketika kami membungkus kado, kami tidak membuat kartu ucapan selamat ulang tahun, melainkan tata cara memperingati hari jadi Icut. Begini kurang lebih isinya:
1. Tata cara ini berlaku dari pukul 00.00-00.00 (26 Agustus-27 Agustus 08)
2. Rihanna Wannabe (biasa dipanggil RW) dilarang dengan amat sangat mengatakan
TIDAK untuk segala perintah
3. RW diwajibkan bersedia merogoh kocek dengan tulus, yakin, serta
IKHLAS untuk menyejahterakan penggembira (red-Tyas, Bhella, Bibil, Intan)
4. RW juga diwajibkan mengikuti pemotretan dalam berbagai pose yang diperintahkan oleh penggembira, termasuk pose Rihanna dalam album terbarunya
5. RW diwajibkan mengenakan pakaian layak pakai menurut penggembira (ket:
NO SNEAKERS)
6. Apabila RW melanggar salah satu point saja, maka penggembira akan memanggil
LELAKI-YANG-KAU-TAK-SUDI-MENYEBUT-NAMANYAOia, dan kado yang kami berikan pada Icut, ada sejarahnya. Pasalnya, ketika saya, Intan, dan Bhella sedang berjalan2 di ciwalk, saya menemukan baju lucu di Harajuku. Namun mengingat kantong yang amat memprihatinkan, maka saya menaruh kembali baju itu sampai akhirnya diketahui bahwa ada mbak2 cina membeli baju yang sedari tadi saya lirik. Kami gemas sekaligus menyesal karena tak jadi membeli baju itu. Saya yang masih tak sudi baju itu dibeli orang, menanyakan stok baju yang dengan susah payah saya deskripsikan ciri2 baju itu. Didapati ada satu tapi beda warna. Tadinya saya berharap tidak ada saja, karena dompet saya hanya berisi 15 ribu *kecuali beberapa ratus di atm*, tapi kalo gak?? Saya pun mencoba baju itu, ternyata lengan baju sebelah kanan gak masuk. Jangan berpikir saya kegendutan, tapi emang dasar baju itu diciptakan salah ama penjahitnya. Maka ditaruh kembali dengan alasan tidak pas. Ilham pun menghampiri saya yang tengah terombang ambing membeli baju tiu atau tidak, Intan yang gelisah membeli sepatu atau tidak, sampai akhirnya diputuskan baju itu dibeli aja buat kado Icut. Dengan segenap keyakinan baju itu pas di Icut, Intan pun yang mantap membeli sepatu dengan berhutang gesek dengan saya, membeli baju itu. Bermodalkan kepercayaan diri untuk belanja dengan gesek BNI, mbak2nya gagal melakukan transaksi. Ada apa dengan debit saya? Apa BNI sedang rusak? Akhirnya saya memohon diri ke ATM bareng Intan. Ternyata, uang di ATM tidak cukup. Ampe tahun dinosaurus juga gak akan berhasil kalo gitu mah. Dengan receh2 yang tersisa dan uang secukupnya dari debit saya, kami pun kembali ke Harajuku dengan tampang sok tidak ada apa2.Belum kami berhasil keluar dari ATM, Intan pun tercengang dengan tas cantik Metronya yang putus di depan banyak orang. Dan berakhir dengan bukan plastik yang masuk ke tas Intan, melainkan tas Intan masuk plastik.
Yah, begitulah nasib kami, mahasiswi yang penuh derita. Semoga hal ini tidak terjadi lagi...