Rabu, 24 September 2008

Ajaib

Gw gak percaya lw gak akan belanja


Begitulah kalimat singkat yang dilontarkan Sarah ke gw. Jadi tuh, udah dua hari ini gw terjebak ke dalam jeratan setan-setan belanja. Yah gimana nggak, temen gw bernama Bhella itu sedang ngidam2nya beli T-Strap yang entah dari dunia mana dia impi-impikan. Hanya berniatkan menemani, MENEMANI kawan!! Bukan belanja. Cuma nganter took. Gw, Icut, ama Uni berlenggang ke BTC. Dari awal memang Sarah udah tau rencana menemani gw ini agak diragukan. Tapi gw meyakinkan kepadanya bahwa gw tidak akan tergiur melihat santapan barang2 yang minta dibeli. Benar saja, sesampainya gw di toko sepatu yang konon tempat T-Strap itu berasal, ada satu sepatu yang gw rasa this is called love at first sight. Ehem, tanpa ragu dan bimbang, gw minta ukuran dan mencobanya dan memandangnya dan menawar harga dan menimbang-nimbang dan melupakan perkataan gw bahwa gw hanya menemani. Tapi, emang gak gw beli saat itu juga, melainkan setelah gw mendapat ilham saat sholat maghrib (ampe gak khusyuk sholatnya,, wehehhehe). Tekad bulat.

Maka dibelilah itu sepatu dengan sebelumnya Uni membeli baju. Gak heran kalo gw sih dia bakal belanja. Dangw pun dengan hati tak tenang langsung ke In Her Shoe. Pas nyampe, tokonya uda mau tutup. Fuh, untung aja. Nah, berlandaskan gali lubang tutup lubang, gw pinjem duit Uni. Ihihihihhi, sapa suruh gak ada ATM Mandiri?? Udah tuh, akhirnya sepatu tersebut halal milik gw dengan status ngutang. Wkakakakaa. Dilanjutkan dengan pengejaran kado, maka setelah melintas beberapa toko, didapatilah baju yang akan gw beli untuk hadiah Sarah. Namun nampaknya kepicikkan tante2 yang jual itu mengharuskan icut terpaksa membeli sepotong baju demi tidak dikenai biaya charge 3% oleh si tante. Maka, Uni yang dengan senang hati menggesek debitnya pun (karena semakin tinggi saham2nya di gw dan Icut) menyunggingkan senyum kemenangan mempengaruhi Icut yang baru saja berkata,
emang cuma aku yang tahan godaan
. Plok plok plok. Makan tuh tahan godaaan!!

Baik, diakhiri dengan kami pulang. Dalam perjalanan, Uni berikrar kepada kami,
Ini adalah belanja terakhir. Gw gak akan belanja lagi setelah lebaran ampe liburan. Kalo ampe gw belanja, lw semua gw traktir!!
. Sorak sorai meramaikan taksi saat itu, karena kami jelas sekali tak percaya janji manis itu. Jelas dari dulu ampe dinosaurus hidup lagi juga, pasti yakin deh Uni pemenang dari segala kehedonan. Kita lihat saja.

Selanjutnya, gw yang dengan (lagi-lagi) niatan menemani Icut beli bahan di Pasar Baru, terperosok ke lembah setan belanja. Pasalnya, Pasar Baru itu menawarkan banyak bahankerudung yang warnanya bagus2. Saat gw membeli satu bahan, kayaknya gw siih ngerasa lagi gak waras, gak sadarkan diri, dan gak inget dengan janji kepada Sarah gak akan beli bahan. Untung saat itu malaikat2 menaungi gw untuk membatasi belanjaan kami. Endingnya gw cuma beli satu di mana Icut beli 8 bahan. Eheemmmm,, ck ck ck

Dan kali ini, gw dapat membuktikan bahwa tingkat hawa nafsu gw berkurang. Kemaren bgt, gw habis NEMENIN Bhella yang niatnya beli oleh2 buat adek2nya. Uni juga ikut. Tadinya gw hampir, HAMPIR aja beli sepatu di Fukuya. Beneran deh, kalo ampe ada tu ukuran sepatu, ck ck ck. Alamat gali lubang lagih. Mengingat baru aja gw melunasi tunggakan gw. Setelah mengelilingi berbagai distro di Truno, Bhella menggotong plastik besar, sebesar setengah dari badannya. Dia udah dapet baju buat adeknya. Nah si Uni, emang dasar jiwa hedon yang berkobar2, mencari dompet yang katanya udah usang. Di 347 ada tuh satu dompet yang gw temukan warna coklat, dan nampaknya bolehlaah kalo dibeli. Sembari berjalan2, pada suatu toko, tanpa gw berencana busuk atau menjadi setan belanja saat itu, gw menunjukkan satu kaos lucu bgt. Hanya nunjukkin loh, gak maksud ingin membeli. Tapi, di luar dugaan kawan, bhella dengan antusias memelas ingin beli. Dengan senyuman syaithoon, gw dan Uni mengangguk dan bersedia dihutangin ama anak itu. Satu domba tersesat! yeah!

Setelah letih dan mendapati toko pada tutup, maka kami kembali ke 347. Diskusi yang cukup panas, mengantarkan kami untuk bertandang lagi dan memutuskan untuk merayu Uni beli itu dompet. Setelah pertanyaan2 aneh yang dilontarkan Uni, seperti "Eh, eh kira2 masih ada gak ya dompet tadi?" (kami mengangguk) "Wah ada, tapi beli gak ya?" (Mengangguk lagi) "Emangnya dompet gw udah jelek?" (masih mengangguk) "Worth it gak ama harganya?" (lagi2 mengangguk) "ya udah, mbak dompetnya mau dong!". Dua domba tersesat. Maaf kawan!! gw tidak bercita2 untuk jadi setan di saat kalian belanja, namun ini implikasi dari gw yg tdak belanja. Fufufufuufu

ps:Bhel, tas zebranya lucu lhooowww. Nyesel kalo gak beli. Inget, itu limited edition. Astaga!!!!

Minggu, 31 Agustus 2008

Tragis


Nobody's perfect. Mungkin kata itu yang lebih tepat dilontarkan untuk seorang Nabila As'ad, gadis lugu nan polos yang hobi membuat orang sekitarnya berdecak kagum. Mengawali cerita saya yang agak complicated, saya ingin menawarkan seteguk air putih yang setia menemani saya sore ini. Glek.


Tak perlu bertele-tele, begini nasib korban kejeniusan Bhella sang gadis polos. .


Semua diawali hari Senin, 25 Agustus 08, sehari menjelang ulang tahun Icut. Kami (baca:saya, Tyas, Intan, Bhella) merencanakan kejutan, yang lebih tepatnya keisengan dibumbui kejahilan untuk Amirinissa a.k.a Icut. Setelah Intan dan Bhella berdiskusi tanpa saya dan Tyas, Intan mendatangi saya yang tengah asik nostalgia dengan teman SMP saya yang sengaja datang ke ITB. Diceritakanlah rencana yang nampaknya berbau apik nan rapi. Maka dengan semangat menggebu-gebu, saya dan Intan berencana membeli tiramisu ke Kartika Sari untuk merayakan hari jadi Icut. Perlukah saya menceritakan rencana itu? Baik, kalau Anda, para pembaca, memaksa.

Pada pukul 00.00 tgl 26 Agustus 08, kami akan memberikan kejutan kue dan kado. Lalu, pagi harinya, kami akan memberantaki kamarnya. Siangnya di kampus, rencana diserahkan kepada Mita Jenny untuk mengerahkan massa demi mengerjai Icut habis2an. Malamnya, Icut harus mentraktir kami di Warung Laos. Cukup rapi, huh?

Kembali ke cerita awal. Saya dan Intan yang sedang berjalan menuju Kartika Sari, berpapasan dengan Tyas, Fitri, dan Icha yang-akan-kumpul-angkatan, di depan Warung Pasta. Letak Warung Pasta merupakan letak yang cukup strategis, karena dekat dengan jalan utama Dago dan tentunya dekat ITB. Namun tidak untuk yang satu ini. Saya, Intan,dan Tyas pun sangat antusias dengan rencana untuk malam itu. Terlalu antusias malah. Dan mungkin-sangat-hyperantusias. Sesaat sebelum kami berpisah, masih dalam keadaan antusiasme tinggi, saya merasakan apa yang dinamakan It sent from above, not angel from God, not fortune from heaven. BUT BIRD'S FECES. Tai burung. Coba sebut lagi! Ee burung. Encer, putih, dan bau tentunya! Saya tidak perlu mendeskripsikan detailnya. Saya yakin Anda bisa menerjemahkannya dalam bayangan Anda sendiri.Just so you know,saya sebelumnya sms-an sama temen SMP saya yang baru saja tiba di ITB dengan plesetan yg sering org bilang, " Welcome to ITB (Institut Ta* Burung). Ehem, ternyata Tuhan yang Maha Adil pun menunjukkan kepada saya bahwa itu benar adanya. Duuh,, saya karma sama almamater saya sendiri *so sorry, gak lagi2 deh*. Tapi entah mengapa tidak hanya saya saja yang kena, melainkan Intan dan Tyas pun kena imbas akibat kekarmaan saya. Maka kami bertiga pun menyimpulkan ini bukan sekedar karma sama ITB, melainkan kena kutuk sama Icut. Untunglah saya tidak dihujani di baju ataupun kerudung, hanya tangan ajah. Berbeda dengan Tyas dan Intan yang level keprihatinannya di atas saya. Mereka kecipratan ampe kena baju dan kerudung. Eeeyyywwwww.

Memperhitungkan jarak tempuh, ketidaklayakan penampilan, dan kondisi mental kami, maka saya dan Intan bergegas ke kosan Tyas untuk bersih2. Berharap Bhella yang satu kamar dengan Tyas menitipkan kunci yang tinggal satu2nya ke Mbak kosan, kami melesat cepat. Perlu saya beritakan terlebih dahulu bahwa Bhella yang konon satu kamar dengan Tyas, baru saja kehilangan kunci kamar, maka mereka berdua berbagi kunci. Sesampainya di kosan Tyas, ternyata kunci tidak dititipkan oleh Bhella. Intan yang mukanya udah kusut, mengajak saya pulang ke kosan. Sementara saya yang tidak tega melihat "cairan putih" itu melekat di baju dan kerudung Intan pun hanya bisa memanggut. Di angkot, Intan berdampingan duduk dengan seorang mbak2 eksekutif cantik, wangi, rambut mungkin baru dibenahi di salon, penampilan yang sangat membuat saya berdecak kagum, dan tentunya tidak ada tai burung di tubuhnya. Saya tidak tega tertawa melihat di samping mbak2 cantik itu tergolek gadis muda yang baru saja menggebu2 membeli kue dan terpaksa memupuskan harapannya karena dapet "hadiah dari atas". Sumpah, saat itu saya tidak mencium bau yang aneh2. Tapi mungkin tidak begitu dengan Intan dan mbak2 di sampingnya. Hiihihiihihi.


Sesampainya di kosan, kami bersih bersih. Dan tak lama, Tyas menelpon saya dan mengatakan akan ke kosan saya karena dia tidak bisa pulang ke kosannya sendiri karena lasan yang Anda tau kenapa. Maka, tibalah Tyas dan Icha, temannya untuk menumpang sholat ashar. Karena tidak jadi membeli kue, maka kami memutuskan untuk membeli kue setelah makan malam bersama Bhella. Kami janjian di simpang setelah magrib. Berharap kali ini rencana berjalan lancar, maka kami bersorak sorai keluar kosan. Ternyata, tanpa di duga, Bhella malah mengajak Icut makan malam bersama. Yak, ini mengakibatkan rencana membeli kue terhambat. Oleh karena itu setelah diskusi yang amat sangat pelik, diputuskan saya yang ikut makan malam bersama Bhella dan Icut, sementara Intan dan Tyas pergi membeli kue. Ketika bertemu dengan mereka berdua, saya yang tengah berpenampilan di luar kebiasaan jika makan malam, ditanya oleh Bhella, "Kok lw rapi amat? Mana Tyas ma Uni?". Saya hanya berkata, "Tadi habis ngerjain tugas di KP. Tyas ke kosan Icha ngambil barang. Uni ada kumpul PSIK", sambil mengedipkan mata ke Bhella. Namun kedipan saya nampaknya tidak mengartikan apa2 buat Bhella, mereka berdua percaya. Yang lagi saya bohongi itu siapa ya? Dan saya pun berbisik pada Bhella, "Jangan sampe Icut tau gw ama Uni mau nginep". Dia pun mengerti. Semoga saja.


Setelah makan malam di simpang, saya dan Icut menemani Bhella menduplikat kunci. Sebenarnya malas banget nganterin anak itu duplikatin kunci, hanya saja saya harus memastikan mereka berdua pulang naik angkot, dan saya memperhitungkan jarak untuk ikut menyusup ke kosan Bhella dan Icut. Nyatanya, tukang kunci gak ada, dan Bhella pake acara mampir dulu ke toko bahagia untuk membeli satu chiki Ring. Saya tidak tahu seberapa lama Tyas autis menunggu Bhella di kosan untuk dibukakan kamar. Oia, kosan Icut sama dengan kosan Bhella yang sekamar dengan Tyas. Saya pun akhirnya memutuskan untuk naik angkot. Sesampainya di kosan Bhella, saya menelpon Tyas untuk dibukakan pintu. Cukup lama sampai akhirnya dia membukakan pintu gerbang. Ternyata Icut sedang bertandang di kamar mereka. Icut lagi nonton TV. Saya yang tidak mungkin ke kamar Tyas, dan tidak mungkin juga balik lagi, bersembunyi di pojokan ruang internet. Berharap Tyas dengan sigap mengusir Icut dari kamarnya, saya mengintip2 keadaan sambil menahan pipis. Lima menit berlalu, tak ada peningkatan. Tyas mendatangi saya yang khawatir autis menunggu kelamaan. Tyas bilang, "Sebentar ya, lagi diusahain". Tyas mengerahkan alasan agar Icut kembali ke kamarnya. Dia mengajak Icut nonton film di kamarnya, dengan alasan Bhella mau belajar dan tak mau diganggu. Belum sempat mengungkapkan isi hatinya, Tyas yang masuk ke kamar mandi mendapati dirinya harus nyuci2 *masalah wanita, tak perlu dijelaskan*. Saya yang tidak tahu apa yang terjadi di dalam kamar Tyas, hanya bisa online Yamee berharap Bhella juga online. Sepuluh menit berlalu, tak nampak Tyas berhasil. Dan lama sudah saya menunggu sampai akhirnya saya SMS Bhella untuk segera mengusir Icut dari kamarnya. Dia pun kurang lebih membalasnya, "Bentar ya. Bla bla *saya lupa*". Bersabarlah saya menantinya dari posisi menggelosor di lantai, loncat2an tak tahan ingin pipis, berdiri sambil mengoceh sendiri, sampai berpura2 menjadi orang tak bersalah ketika ada anak kosan yang baru pulang dan melihat saya terkulai lemah. Dan ajaib, tak lama, ada dua orang gadis bertamu ke kamar Bhella. Siapa? Mita Jenny dan Lilian. Makin lah menjadi2 lamanya. Tyas yang sudah bilang kepada Bhella bahwa saya sedang ngumpet, mendatangi saya lagi dan bilang bahwa Mita lagi menyusupkan kado untuk Icut. Auouooooooo!! Saya tak ada kata2 lagi untuk disampaikan selain, "Cepetan deh, gw kebelet!!". Bergegaslah Tyas. Cukup lama pokoknya. Akhirnya saya SMS lag Bhella, dan dia pun membalasnya, " Ada Mita ma Lilian nih, mau nitip kado buat Icut. Bentar ya.". For God's sake, tolong kasihani saya yang udah kena sial sedari sore. Lumutan. Karatan. Bahkan mengerak. Diketahuilah bahwa ternyata Bhella pake acara menawarkan makanan yang dikirim khusus dari Solo kepada Mita Jenny dan Lilian sambil berdiskusi hal2 aneh dan tak menghiraukan saya yang berada di ujung tanduk. Saya sms lagi Bhella, dan dibalas dengan sangat cerdasnya oleh anak itu, "Bil, mendingan lw naek angkot ja dulu.". What?!! Are you thinking i'm at Simpang Dago right now?? U're about absolutely dead. "Bhel, gw uda dikosan lw sedari tadi!!". Lama setelah saya mengirim sms, akhirnya tiga orang itu (Icut, Mita, Lilian) hengkang dari kamar Bhella. Tyas bergegas lari ke saya yang mendapati sms, " Bil, mereka uda pulang. Gw bukain gerbang ya". God, what am i gonna do with this little girl? Saya abaikan smsnya, dan saya berlari ke kamar bersama Tyas dan langsung ke kamar mandi. Tak lama, Bhella datang dengan keterkejutan yang seharusnya tak perlu dia tampakkan. " Kok lw di sini?". Tyas yang capek mengatakan kepada Bhella bahwa sedari tadi saya telah turun dari surga menunggu lw yang tak kunjung mengerti di mana keberadaannya.

Di lain pihak, Bhella juga ternyata telah membuat Icut terkena musibah, yaitu mengumumkan bahwa Icut ulang tahun di depan Orang-Yang-Tak-Sudi-Disebut-Namanya.

Malam itu pun menjadi malam yang panjang untuk saya. Tyas menonton film bersama Icut sampai dia terlelap, Intan yang akhirnya datang dari kumpul setelah membeli kue, Bhella yang entah apa yang ada dalam pikirannya, dan saya yang letih menanti pukul 00.00. Ketika kami membungkus kado, kami tidak membuat kartu ucapan selamat ulang tahun, melainkan tata cara memperingati hari jadi Icut. Begini kurang lebih isinya:

1. Tata cara ini berlaku dari pukul 00.00-00.00 (26 Agustus-27 Agustus 08)
2. Rihanna Wannabe (biasa dipanggil RW) dilarang dengan amat sangat mengatakan TIDAK untuk segala perintah
3. RW diwajibkan bersedia merogoh kocek dengan tulus, yakin, serta IKHLAS untuk menyejahterakan penggembira (red-Tyas, Bhella, Bibil, Intan)
4. RW juga diwajibkan mengikuti pemotretan dalam berbagai pose yang diperintahkan oleh penggembira, termasuk pose Rihanna dalam album terbarunya
5. RW diwajibkan mengenakan pakaian layak pakai menurut penggembira (ket: NO SNEAKERS)
6. Apabila RW melanggar salah satu point saja, maka penggembira akan memanggil LELAKI-YANG-KAU-TAK-SUDI-MENYEBUT-NAMANYA

Oia, dan kado yang kami berikan pada Icut, ada sejarahnya. Pasalnya, ketika saya, Intan, dan Bhella sedang berjalan2 di ciwalk, saya menemukan baju lucu di Harajuku. Namun mengingat kantong yang amat memprihatinkan, maka saya menaruh kembali baju itu sampai akhirnya diketahui bahwa ada mbak2 cina membeli baju yang sedari tadi saya lirik. Kami gemas sekaligus menyesal karena tak jadi membeli baju itu. Saya yang masih tak sudi baju itu dibeli orang, menanyakan stok baju yang dengan susah payah saya deskripsikan ciri2 baju itu. Didapati ada satu tapi beda warna. Tadinya saya berharap tidak ada saja, karena dompet saya hanya berisi 15 ribu *kecuali beberapa ratus di atm*, tapi kalo gak?? Saya pun mencoba baju itu, ternyata lengan baju sebelah kanan gak masuk. Jangan berpikir saya kegendutan, tapi emang dasar baju itu diciptakan salah ama penjahitnya. Maka ditaruh kembali dengan alasan tidak pas. Ilham pun menghampiri saya yang tengah terombang ambing membeli baju tiu atau tidak, Intan yang gelisah membeli sepatu atau tidak, sampai akhirnya diputuskan baju itu dibeli aja buat kado Icut. Dengan segenap keyakinan baju itu pas di Icut, Intan pun yang mantap membeli sepatu dengan berhutang gesek dengan saya, membeli baju itu. Bermodalkan kepercayaan diri untuk belanja dengan gesek BNI, mbak2nya gagal melakukan transaksi. Ada apa dengan debit saya? Apa BNI sedang rusak? Akhirnya saya memohon diri ke ATM bareng Intan. Ternyata, uang di ATM tidak cukup. Ampe tahun dinosaurus juga gak akan berhasil kalo gitu mah. Dengan receh2 yang tersisa dan uang secukupnya dari debit saya, kami pun kembali ke Harajuku dengan tampang sok tidak ada apa2.Belum kami berhasil keluar dari ATM, Intan pun tercengang dengan tas cantik Metronya yang putus di depan banyak orang. Dan berakhir dengan bukan plastik yang masuk ke tas Intan, melainkan tas Intan masuk plastik.

Yah, begitulah nasib kami, mahasiswi yang penuh derita. Semoga hal ini tidak terjadi lagi...

Selasa, 12 Agustus 2008

Melankolis

Kemaren gw lagi ngerasa kangen bgt ama IC. Gak tau kenapa kayaknya gw pengen kembali ke masa-masa SMA. Gw jadi inget betapa nakalnya gw, betapa senengnya punya banyak temen, betapa jenuhnya hidup di penjara, betapa menyebalkannya peraturan, semuanyaaaa!!

Coba, ya, kita flash back masa2 gw:
1. Kelas X
Betapa beratnya menghadapi kenyataan bahwa gw harus tinggal satu atap bersama orang yang amat asing buat gw, jauh dari orang tua, makanan yang tidak cocok dengan lidah, aturan yang mengikat, aktivitas yang monoton, temen2 yang aneh, huaaaaahh gak banget lah. Kelas satu saat itu awalnya bikin gw homesick tiap hari. Tapi lama2, setelah gw bisa bolos ke mesjid, membawa barang terlarang *HP*, masalah angkatan yang hampir memecahbelahkan persatuan, dan bersenang2 saat esok akan ujian, justru ngerubah suasana hati. Meski kadang2 gw keterlaluan sih nakalnya, tapi itu kan sepenggal pengalaman seru.

2. Kelas XI
Saat itu gw mencoba untuk belajar kompak. Kalo ada yang bilang masa2 kelas dua SMA itu menyenangkan, gw sangat setuju. Banyak banget yang bikin kita kompak, baik angkatan maupun kelas. Dari yang namanya bikin film, bikin jaket angkatan, bikin kepanitiaan, bikin wali kelas ngamuk, bikin buku callista, bikin semuanya jadi beda. Sampe kabur dari acara angkatan ke Bandung udah pernah. Sedih banget pas sadar udah mau kelas tiga aja.

3. Kelas XII
Masa2 terberat di hidup gw. Gimana nggak? Ujian, try out, tugas, KIR, intensif, buku tahunan, saringan mandiri, deg-degan dapet univ, nadzar, tahajud bareng, bla bla bla. Bener2 deh, capek banget rasanya kalo diinget lagi.

Tapi bagi gw, gak ada yang bisa ngebayar pengalaman hebat gw selama di IC. Gak sedikitpun gw nyesel pernah ada di sana *kecuali saat masih sekolah, selalu ngedumel*. Kangen juga guru2 yang selalu bikin gw bangga.

Buat:
1. Pak Iis : Sumpah, sabar banget yang namanya ngajar. Dia gak pernah ngebangunin gw kalo tidur di kelas

2. Bu Sofi : Tiga tahun ngajar matematika. Paling tau kelemahan gw di mana.

3. Bu Rita : Guru asuh yang modis dan selalu asik kalo ngajar intensif saking cepetnya nerangin.

4. Pak Kris : Tiga tahun ngajar olahraga. Paling tau kalo gw yang akan keluar jai pemenang terakhir. Udah tau betapa lambatnya gerak motorik gw. Paling seneng ngerjain gw kalo telat.

5. Pak Darno : Jayus, aneh, tapi bikin suasana belajar jadi cair. Cara jalannya mencerminkan betapa tidak kesampaian cita2nya jadi model.

6. Bu Nova : Tiga tahun ngajar Fiqh. Entah apa yang ingin gw sampaikan.

7. Pak Bahrul : Bikin bahasa Arab makin menantang karena berteman dengan Syeikh

8. Pak Agung : Cool

9. Sir I : Gaul, paling ngerti dunia kita, kapan nikah??

10. Bu Tini : Baru kerasan diajar ama dia pas kelas tiga. Sabar bangeeettt

11. Bu Har : Perfect

12. Pak Har : Cocok banget ama Bu Har

13. Pak Deny : Spongebob maniak. Gak ngerti gw ama jalan pikirannya.

14. Bu Elly : Target. Ayo senyuuum bu!!

15. Bu Etty : Isi otaknya banyak banget. Parah,, parah

16. Bu Rene : Psikopat. Nyantai gila. Biologi makin panas kalo diajarin ama dia

17. Pak Away : Hafalan saya udah semua Paakk

18. Pak Jalil : Kadang baik, kadang yaaah gitu lah. Suka iseng nyuruh ngelanjutin ayat

19. Bu Dini : Pembina yang berwibawa

20. Bu Evi : Asik banget. Dia tau gw melakukan pelanggaran, tapi tetep cool

21. Bu Novi : Ungu,, ungu,, ungu semuanya

22. Pak Fahruroji : SKI sangat sulit

23. Bu Icus : Iyyaa!! Jembatan keledainya berguna banget

24. Bu Tina : Paling cantik. Sabar jadi pembimbing KIR gw

25. Pak Huda : Umm,, apa ya??

26. Bu Ifat : Cuek. Tegas. Tempat curhat

27. Huuuuauaaauauaua semua deeeh,, capek gw
Semoga aja kita bisa ketemu lagi tahun 2014, Reunian akbar Morgan. Semoga aja kita uda jadi orang yg berguna, udah bisa jadi apa yang kita impikan, masih tetep megang ajaran IC biarpun sedikit, uda bawa keluarga, uda bisa kompak, uda bisa saling menghargai, fuuuh...

miss ya all!!

Sabtu, 09 Agustus 2008

Last Minute

1. Yang lagi dirasa?
-sakit perut + ngantuk x pusing = pengen tidur

2. Ritual sebelum tidur?
-baca doa atau baca buku atau ketiduran pas baca buku

3. Keajaiban yang terjadi hari ini?
-akhirnya gw bisa menggunakan vpn

4. Berita buruk yg diterima?
-the freaky friday is getting freak

5. Hewan yg terakhir dipiara?
-ikan!! kasian mereka, mati tanpa dosa

6. Paling seneng kalo ngapain?
-wish list gw terwujud

7. Kalo ada yang bohong ama kamu?
-tergantung, bohong tentang apa

8. Kalo ada yang bawain kamu bunga?
-asal bukan bunga bangkai ama kamboja, gw terima deh

9. Kalo ada yang minta beliin I-Phone?
-uangnya mana?

10. Kalo ada yang kasih surat misterius?
-ngasih gw coklat kek, kue kek, atau duit aja deh mendingan

11. Kalo ada tiket ke disneyland tergeletak di jalan?
-menurut lw? ya gw ambil laaah

12. Gak bakal menyia2kan apa?
-kesempatan langka

13. Orang yang paling sabar di hidup kamu?
-bokap

14. Orang yang dikangenin?
-semua!! yang tidak meninggalkan kebetean di hidup gw tentunya

15. Orang kek apa kamu?
-sensitif

Selasa, 05 Agustus 2008

Tamasya Edukatif Mahasiswa Berprestasi

Liburan yang edukatif nampaknya mulai digemari oleh mahasiswa seperti gw, Tyas, dan Nimas. Dan dari niat yang tulus inilah kami memulai perjalanan panjang kami.

Berawal dari kejenuhan kami menghabiskan liburan yang kurang mendidik, Tyas mengusulkan untuk mengunjungi beberapa museum di ibu kota, tepatnya Jakarta Barat. Ide ini ditanggapi dengan sangat positif oleh gw dan Nimas. Maka, pada tgl 1 Agustus 2008, kami sepakat untuk mencoba hal langka ini dengan janjian di Kota. Gw yang telah datang sekitar 10 menit lebih awal dari mereka, menunggu harap-harap cemas di depan Stasiun Kota. Namun nampaknya kesalahan mereka yang seharusnya naik kereta tujuan Kota dan malah naik jurusan Tanah Abang, mengakibatkan gw menunggu lebih lama. Finally, mereka pun tiba. Selanjutnya kami pun mengawali petualangan:

1. Museum Bank Mandiri

Tepat setengah jam setelah museum ini dibuka, kami dengan semangat memasuki museum yang luasnya tak terkira oleh kami sebelumnya. Tidak perlu bayar tiket masuk, tidak ada guide, tidak ada informasi tentang beribu mesin maupun alat apa yang dipajang, dan tidak ada pengunjung lain selain kami. Perlu diketahui betapa megahnya museum yang kebanyakan propertinya terbuat dari kayu ini. Sebenarnya kalau boleh jujur, kami agak tidak memahami alat-alat, mesin-mesin, istilah-istilah, dan patung-patung yang ada di sana. Dengan sangat percaya diri, masing-masing dari kami selalu memiliki jawaban yang kurang dapat dipercaya kebenarannya kepada masing-masing dari kami yg bertanya. Kami butuh ekonoom!! Sampai akhirnya kami memasuki ruangan direktur bank yang entah masih dipakai atau tidak, yang jelas kami berfoto-foto di atas kursi besar dan berkhayal suatu hari nanti kami duduk di sana sebagai seorang direktur. Berharap tidak diusir dengan cara tidak wajar, kami beranjak ke ruangan yang memamerkan uang-uang zaman dahulu. Dan inilah yang membuat kami sadar bahwa nilai mata uang kita kecil juga ya? Hahhaha. Tapi gw suka koin-koin 5 sen yang kecil-kecil itu, dan koleksi uang 2500 rupiah yang tidak muat di dompet gw, karena besar sekali! Ditutup dengan letihnya kaki kami yang telah berkeliling satu setengah jam, kami menuju Museum BI. Sayang sekali museum harus tutup, karena pegawainya akan beristirahat. Maka, kami pun melanjutkannya ke Museum Fatahillah.

2. Museum Fatahillah

Museum bekas gedung pemerintahan Jakarta pada masa penjajahan ini memamerkan beberapa prasasti, batu-batuan, patung dewa dewi, miniatur kapal, becak, meriam, ondel-ondel, dan keris-keris. Di lantai atasnya, ada kamar yang luasnya berkali-kali lipat kamar kosan gw. Dan FYI, pintu, lemari, frame kaca, tempat tidur, kursi, meja, pokoknya semua barang-barangnya dari kayu. Gak heran kenapa kayu makin dikit aja. Satu hal yang mengejutkan gw, yaitu penjara bawah tanah yang gelap dan cukup membuat gw merinding. Ternyata koleksi andalan dari museum ini adalah meriam Si Jagur yang bentuknya agak tidak sopan bagi masyarakat sekarang. Yah, mendingan liat sendiri lah. Sepertinya kami butuh sejarawan di museum ini. Seselesainya kami mengitari museum ini, kami melanjutkan kunjungan ke Gift Shop untuk membeli kenang-kenangan dan kemudian ke Batavia Cafe.

3. Batavia Cafe

Batavia Cafe bukanlah museum yang menampilkan pelbagai benda-benda bersejarah nan bernilai tinggi. Sekedar memenuhi rasa penasaran kami, dengan sangat bermodalkan muka badak, kami masuk. Dari judulnya pasti dapat ditebak tempat ini menyajikan makanan, minuman, dan hiburan. Kami yang sebelumnya sudah bersepakat untuk hanya memesan minum saja jika harganya tinggi, disambut dengan hangat oleh mbak-mbak berok mini. Dengan kesadaran yang luar biasa, kami serempak berpikir, “Betapa bodohnya kami ke sini”. Dekorasi yang sebenarnya telah terbayang sebelumnya menunjukkan ini khusus kalangan Jetset! Beginilah kami disambut:

Mbak-mbak berok mini (MBR)

Salah satu di antara kami (SSDAK)

MBR : Silahkan, Mbak. Mau ngapain?

Bagi orang tak berduit, mungkin agak sensitif jika ditanya demikian. Emangnya lw pikir gw mau ngamen? Segitu terlihatkah raut muka nelangsa kami?

SSDAK : Umm, minum aja, Mbak.

Lalu kami diantar ke sebuah ruangan yang dihiasi foto wanita bugil, foto mantan Presiden Soekarno, foto seorang koki, foto orang yang gak dikenal, dan foto-foto tersebut membuat kami mengurut dada. Tak lama menu minuman ditawarkan. Halaman pertama kami buka dengan membaca basmallah, dan sontak kami pun beristighfar, dilanjutkan dengan subhanallah, dan terakhir mengurut dada. Kenapa? Ya karena baru buka aja harganya udah 50rb ampe 300rb. Halaman kedua, ketiga, keempat, berisi harga-harga jutaan. Tau sendirilah minuman apa yang harganya selangit itu. Intinya kami ke lembar terakhir yang tertulis harga 16.500. Berharap ada jus di daftar harga itu, kami harus puas karena hanya ada menu Breakfast English, Earl Grey, Peppermint, yah yang anget2 gt deh, kecuali satu, Iced Lemon Tea. Dengan mantap kami memesan tiga Iced Lemon Tea dan berharap gelasnya tinggi. Gw dan Nimas yang menjadi korban kesalahan informasi Tyas hanya bisa memutuskan untuk makan siang ketoprak saja. FYI, tepat di sebelah Batavia Cafe, terdapat jajanan pinggir jalan yang cukup menunjukkan kesenjangan sosial. Hmm, beginilah nasib kami yang harus puas makan siang down to earth kali ini, dikarenakan jatuh miskin seketika. Tak lama datanglah minuman kami. Ternyata cukup memuaskan kami yang sudah kehausan sedari tadi. Setelah ‘berkunjung’ ke Batavia Cafe, kami keluar dan berencana makan. Namun entah mengapa keluar dari cafe itu, kami jadi tidak lapar. Maka, dilanjutkanlah Perjalanan Tiga Wanita ke Museum Wayang.

4. Museum Wayang

Di sana gw dan Tyas mendapat cerita tentang beberapa kisah perwayangan dari Nimas yang dia dapat dari ayahnya. Beberapa boneka dari penjuru dunia dan wayang di sana cukup mengejutkan gw yang agak parno. Ternyata gedung museum ini awalnya gereja dan ada makan JP Coen yang tersohor kejam. Dan satu spot yang gw suka, yaitu taman bekas makam JP Coen yang bagus bgt, mungkinkah aura orang kejam menjadikan bekas makamnya menarik hati? Haah, gak masuk akal. Kami pun minta mas-mas yang sedari tadi berisik bercanda dengan teman-temannya untuk memoto kami di sana. Dan terakhir, kami foto dengan ondel-ondel tak bertaring. Yeah!

5. Museum Keramik dan Seni Lukis

Setelah puas melihat wayang, kami beranjak ke Museum Keramik dan Seni Lukis. Museum ini memamerkan berbagai guci, keramik, lukisan, dan kerajinan lain yang lagi-lagi membuat kami harus menerka, khususnya pada lukisan. Lukisan yang banyaknya tak terhitung ini membuat kami terheran-heran, bagaimana bisa kami menerjemahkan coretan cat minyak di atas kanvas yang bernilai tinggi tersebut? Nampaknya dibutuhkan seorang seniman mendampingi kami. Dan overall sebagian lukisan cukup memuaskan hati kami.

6. Museum Bank Indonesia

Satu hal yang bikin gw penasaran adalah naik sepeda ontel. Dan ternyata harus puas tidak merasakan serunya naik sepeda tersebut karena kami harus buru-buru ke Museum BI. Surga dari semua museum. Cuma museum ini yang pake AC. Fuh! Ruangan pertama adalah ruangan koin jatuh. Kami yang sudah seperti anak kampung mencoba menangkap koin yang menampilkan informasi jika kami berhasil menangkapnya. Hampir lima menit kami di sana dan hanya satu koin saja yang kami dapat. Maka diakhiri dengan seruan, “Sebel!!”. Selanjutnya ada sedikit diorama yang bagus banget, info-info yang kocak, sejarah perekonomian Indonesia, dan uang-uang zaman dulu. Sayangnya kami diusir dengan sopan karena museum sudah mau tutup. Bergegaslah kami menuju Monas naik Trans Jakarta.

7. Monas

Kami yang tadinya mau turun di halte Monas, malah turun di halte BI karena keasyikan duduk di dalam Trans Jakarta. Mencoba bertahan sampai ke Monas, kaki kami yang telah mati rasa harus puas berjalan kaki dari pintu masuk sampai terowongan subway yang jauhnya nauudzubillah. Saat itu gw benci banget ama wara-wiri yang gak ada satu pun beroperasi. Kekuatan kami akhirnya mengantarkan kami ke atas monas. Menghabiskan beberapa saat sampai merasa puas, kami memandang kota Jakarta yang sudah lama gak gw liat. Senangnya! Lanjut ke museumnya yang berisi diorama layaknya museum lubang buaya. Ada juga pameran foto rekonstruksi monas dari awal sampai akhir. Dan di sinilah gw berkenalan dengan seorang anak kecil Arab. Bermodalkan bahasa Arab seadanya dibumbui kenekatan yang pas, yaitu ketika dia sendirian, tak ada orang tuanya, gw pun menghampiri dia yang sedang menulis komen foto-foto tersebut.

Gw (G)

Anak Arab (AA)

G : Masmuk? *What’s your name? Siapa namamu? Saha namina?*

AA : Rakhyan

Lalu dia memberi gw spidol dan berlalu begitu saja dengan meninggalkan senyum yang mengartikan, “ Mbak ini cantik banget. Jadi malu aku. Pengen tanya namanya sih, tapiii malu ah. Si papa kemana lagi? Masa ninggalin aku sendirian ama mbak2 cantik yang ternyata bisa ngomong bahasa Arab ini? Ah, malu ah. Pergi aja deh. Dadah mbak cantiik!”. Gw yang sudah merangkai kata-kata seandainya dia melanjutkan percakapan, hanya terpaku dengan spidol hitam di tangan, dan memandang dia melenggang kikuk mencari orang tuanya. Hahhaahha, setidaknya gw berhasil mengaplikasikan ajaran Pak Bahrul dan Syeikh Sahata Syahid semasa SMA. Mereka pasti bangga! Fufufuufu. Setelah itu gw meninggalkan komen dan lagi2 terpaku melihat tulisan anak arab tadi yang cuma basmallah, tapi kok bagus yah tulisannya? Gw aja yg pernah bikin kaligrafi gak pernah sesimpel namun sebagus itu. Halah. Kemudian kami pun keluar dari museum dan sedikit berfoto-foto. Menyadari waktu yang semakin mendekati 17.15, di mana gw sudah ditunggu nyokap, sontak gw langsung bergegas ke Gambir tanpa menghabiskan waktu lebih dari 5 menit dan berpisah dengan Tyas dan Nimas. Sumpah. Kaki gw ini amat sangat teramat tremor seketika. Belum lagi kalo2 gw gak dapet tempat duduk di kereta. Untungnya kursi lipat nyokap gw menyembuhkan ketremoran kaki gw. Senangnya gw setibanya di rumah dan mandi air hangat! Namun di lain tempat, di mana gw tengah menikmati susu coklat hangat, Tyas dan Nimas sedang berjuang di angkot. Mereka pun berakhir dengan ketidakberdayaan sampai di rumah jam 11an. But overall, that’s fun!

Senin, 28 Juli 2008

Jenuh

1. Tadi malem ngapain?
-makan malem abis tu tidur

2. Ada yang bikin seneng pagi ini?
-emm ada, keknya gara2 mimpi semalem. Gw mimpi disuruh joget ama Bu Dini. Huh

3. Rencana hari ini?
-nyari database orang

4. Terlaksana gak?
-totally not

5. Lagu apa yang sering dinyanyiin?
-Auld Lang Syne

6. Apa yang lagi dipikirin?
-ngumpulin mood buat kuliah lagi

7. Siapa yang paling bikin kamu seneng?
-yang bisa bikin gw ketawa

8. Lagi pengen apa?
-karaokean, tapi sendiri aja

9. Kapan terakhir ketemu temen lama?
-Kamis kemaren

10. Seberapa hebat kamu?
-sehebat tsunami yang merobohkan gedung2 di Jakarta. Cih, mungkin lebih

11. Moto yang selalu dipegang?
-Selalu Ada Niat

12. Orang yang lagi kamu kangenin?
-partner in crime, tukang susu murni, tetangga, banyak lah

13. Buah yang paling disuka?
-mangga dong

14. lagi nabung buat apa?
-beli apartemen, bikin butik, sekolah di luar negeri, membiayai hidup pokoknya

15. Udah lama gak ngapain?
-maen bowling

16. Apa yang terakhir bikin ketawa?
-Olga di ceriwis

17. Pas TK, apa yang paling dikenang?
-karnaval ama manasik haji

18. Pas SD, apa yg paling dikenang?
-ngompol pas latihan SKJ

19. Pas SMP, apa yg paling dikenang?
-nasi Ibu Pelit

20. Pas SMA, apa yg paling dikenang?
-kebrutalan, kebahagiaan, kesedihan, pokoknya masa paling indah

21. Pas kuliah, apa yg paling dikenang?
-membohongi bapak kos

22. Hal terbodoh yg pernah dilakukan?
-banyaknya minta ampun

23. Siapa yg paling blak2an ngomong ke kamu?
-orang2 polos nan tak berdosa

24. Hal yang paling kamu banggain?
-pernah bikin lagu dan rekaman bareng kelompok

25. Permintaan yang belum tercapai?
-ke Jakarta bawa mobil

26. Pengen teriak apa?
-HOOAAH!! JENUHNYA DI RUMAH SAJA!!

Kamis, 10 Juli 2008

Dream is A Wish Your Heart Made



I have a dream, sometimes it's called fantasy, or imagination, or maybe expectation, or whatever. There i'm having party and wearing the best gown i've ever had, high heels which having rhythm in every single step (but don't ever think about horseshoe). There i'm hoping someone accompany me and i'm hoping it's not just cocktail or softdrink or even patty shell, just something "sweeter" than that. And if i will enjoy the party all by myself, at least a galaxy of circus come to console me. Or possible i stand on the corner party with flowerpot-for-decorating-the-room while everyone's dancing. And the worst prossibility if i neck or nought to go down to dance floor and feel like "I'm the queen", without realize they're just laughing at me, ohh better make nooses for my own neck. For a moment i need someone to help me through that thing, but please don't a man, a man from mental hospital!! Then when the party's over, when everybody has a happy ending, when the circus were tired, even when bluebottles have a disco-lamp-sick, i clear the rest of party, pigswill, waste, residual heat, and outstanding order up (hope no outstanding debt). During i'm finishing my job, i'm singing with my broom, dancing with my broom, laughing with my broom, joking with my broom, being angry with my broom, being bored with my broom, and THROW MY BROOM. Too bad, it hits MY BOSS. I run as fast as possible, and possible i'm not a good runner, i plummet in the end of my life with my cleansing-service gown. Do you think i'm such a drama queen? Yes, i am! Fuh




ps: it's just a joke